Injury Time leads to Recovery Time

Injury time has just ended … Here comes Recovery time!

Apa coba ya? Ehm … no need to explain lah. Untungnya walaupun sempat mengalami kerewelan yang menurut saya ganggu, saya untungnya melewati injury time ini dengan aman tentram damai. Sedikit destruktif walaupun tidak parah hahahahha … Perih memang. Dan mengorek keperihan during the injury times memang menambah beban, but amazingly terasa amat nikmat. I know it sounds crazy, but it’s true! Too much perhaps, but nothing I can do to ease the pain. I’m not fully recovered but I’m getting there though.

Nahh … karena saya masih masuk dalam proses recovery time, jadinya saya banyak berpikir mengenai kejadian gila yang menimpa saya bulan ini. Banyak kejadian yang saya gak pernah notice sebelumnya, jadi saya perhatiin during my injury time dan hopefully saya dapat pelajaran berharga walaupun kalau dibaca mungkin looks crazy. Tapi what the hell … toh this is really what I feel.

Sering kali pada saat kita lihat teman atau sodara sedang dirundung masalah, patah hati, putus cinta atau permasalahan lain, kita sebagai good friend pasti turun tangan at least untuk memberikan dukungan apapun itu bentuknya, dan most pasti berbentuk dukungan moral. The most common thing yang sering terungkap adalah, sabar ya??? ikhlasin aja??? Cari yang lain laaah??? Kasusku malah lebih berat!!! Mungkin pada saat saya terkena permasalahan yang almost similar sebelumnya saya gak terlalu notice ungkapan-ungkapan tersebut, sehingga hanya berlalu saja di telinga saya. Tapi pas saya dirundung masalah yang barusan, those words of ‘wisdom’ berasa seperti tikaman yang setajam SI … LET (tolong … dinadakan a la Feny Rose).

How so? Kata-kata SABAR terus IKHLAS nampak seperti mudah meluncur dari mulut seseorang, dan saya (and I bet everyone) actually tau lah teori kalo lagi ada permasalahan harus dihadapi dengan SABAR dan IKHLAS tadi itu. Cuman saat itu (dan sekarang) saya jadi berpikir apakah itu adalah kalimat standart untuk memberikan support? It’s not that I’m not being grateful atas perhatian dari beberapa teman yang sudah memberikan support, cuman efeknya … instead of saya jadi sabar dan ikhlas, saya malah jadi lebih emosional. Why? It’s like everybody expects me to be patient dan mengikhlaskan yang terjadi during my injury time. Oh God! Saya masih berdarah-darah, dan my mental state was still in a deep sh*t. Syndrome nobody can’t understand me menjadi menggelora dalam dada (hyperbolic mode on … I know!). Saya merasa tidak perlu disabar-sabarkan karena it’s not possible to be SABAR during that moment of injury. It’s not possible as well to be IKHLAS pada saat hati saya masih dilingkupi emosi yang mendalam. Pada waktu itu, saya pun tahu dan mengerti bahwa injury time pasti akan berakhir karena time will heal everything. CUman ungkapan orang-orang itu, seperti meminta saya untuk melakukan speedy recovery pada luka saya sehingga kemungkinan luka saya akan sembuh tp dengan bekas yang nampak jelas, padahal saya masih ingin menikmati berdarah-darahnya luka saya dan membiarkannya sembuh dengan natural sehingga bekasnya hilang dengan sempurna. THat’s it! That’s what I want …. fair enough ‘kan? So, please … don’t add kata-kata sabar dan ikhlas in your comment karena it will torture me even more (I know … another hyperbolic expression!)

Furthermore, saran-saran seperti cari yang lain laaah … dan ujung-ujungnya berimbas pada Mbak Wig sih terlalu pilih-pilih! Nice! Really nice …
For some people, it is easy to find replacement. I wish I could do the same. Dan saya juga ada niatan begitu, tapi kadang reality nya tidak seperti itu. Being judgemental just doesn’t help the situation. Orang dekat cenderung being judgemental over the situation. Saya jadi belajar buat tidak menghakimi suatu situasi karena terkadang reality nya tidak seperti itu. Saya cuman menarik nafas panjang aja kalau ada yang ngomong gitu. Sebel sih, tapi apa saya mau melakukan kekerasan domestik pada orang yang being judgemental kayak begitu … saya ngebayangin kalau ada yang begitu rasanya it will feel great kalo saya bisa jambak-jambakin rambut orang itu sambil ngomong, kayak gini nih rasanya denger omongan lo! (Ally McBeal mode on).

THe other thing is comparing the situation. Seperti, ihhh … masi mending dari pada gue dulu. Bayangin aja jeung, gue dulu … blablablabla … Yeaaaah!! I knowwww … but who cares? It seems that you don’t even care that I’m on my injury time, telling that you have a bigger deeper sh*t is more important! Gosh! Saya berubah or kembali menjadi seorang b*tch. What a hell lah! I need to be back to my old bitchy style sometimes. Saya ngerti sih mungkin maksudnya to make my life a lot lighter karena ada banyak orang dengan penderitaan yang lebih dalem. But heyyy … c’mon! Mereka gak mengalami apa yang saya alami, dan begitupun sebaliknya. Saya tidak pernah mengatakan I have a deeper problem dari pada mereka pada saat mereka mengalami kesulitan. Saya cuman peluk mereka bahwa, everything’s gonna be just fine eventually. Not now, but it will.

Arrrghhhhhhh … sambil mengacak-acak rambut saya. Postingan saya kayaknya bener-bener depress and all. Actually, I’m good … I’m fine (damn! It’s his line tiap kali saya tanya kabar). Saya cuman mengumpulkan kekesalan saya dalam tulisan. The rest … I’m almost fully recovered. Saya gak minta dikasihani cuman … oh please … I just need a release. Really! Thank God, I found 2 friends who really helped me through this bukan karena menyuruh saya buat sabar, ikhlas and all. Yang satu, kami totally share karena permasalahan yang kami hadapi kok ndilalah agak mirip. Kami hanya saling menguatkan dengan it sucks, it’s painful. Nothing we can do, only enjoying this injury moment until it’s gone naturally. Kami malah mengopekluka kami dengan amat nikmatnya hingga bercucuran air mata. And the second, a friend who can build my confidence. Not 100% though. But, it’s quite enough to convince me that I am worth to be with the best and deserve to get the best one.

I don’t know lah … namanya juga masih blank.

Advertisements

then … I become Julia Roberts ….

Mobil saya udah hampir sebulan bulan umurnya, Sonny belum juga sempet mampir tiap kali balik dari off-shore. Kayaknya langsung balik ke kampung halaman gak mampir-mampir rumah eyangnya yang sebelahan kompleks dari rumah saya. Then, I just carried on with my life, such as working, socializing, doing papers and attending weddings. Lagi musimnya mungkin. Kira-kira bulan lalu … pada saat saya bersiap-siap ke nikahan Bram temen kuliah saya … tiba-tiba ada telpon masuk. Di LCD tertulis Adrian Laksono.

Me : Iya bapaaaak … ada apa?
Sonny : Hey buk … Lagi ngapain?
Me : Bram nikah … dapet undangannya ‘kan?
Sonny : Dapet! Brangkat ama sapa?
Me : Rencana nya ama Gondo, Bogel, Ardi, Eka, sama awalnya Aldo di sini juga.
Sonny : Owh dia gak offshore.
Me : Gatau pak *ketus mode on*
Sonny : terus?
Me : Keknya berangkat sendiri, akhirnya. Gatau tuh anak-anak mo dateng earlier soalnya mau nganter Aldo ke airport.
Sonny : Udah siap?
Me : Dari tadi sih soalnya janjinya mo dijemput, tapi secara gak jadi buru-buru … ya aku mau ngadem dulu.
Sonny : Give me stengah jam bisa? Aku mau cukur-cukur dulu, dll.
Me : Kamu di mana Pak?
Sonny : Lagi di Uti (eyangnya) nih … Okay? Click!
Me : SPICLESS …

20 menit kemudian saya keluar kamar, udah gak keringetan … ngobrol bentar sama mamieh dan tiba-tiba …
“Malem, Tante!”
Sonny udah di ruang makan dengan gantengnya pake batik madura yang bagus banget. Saya sempet amazed liat temen saya for 15 years ini. He really looks a lot younger than his real age. Hanya gurat-gurat tipis tersamar di ujung matanya yang tak bisa menipu kalau dia sudah tidak 25 lagi seperti yang banyak diduga orang.
“Eh, Son … udah lama?”
“Barusan kok tante. Wig, langsung?” Singkat dan tegas.
“Mieh … jalan!” Salim dan tak kalah singkatnya.

Di car port dia nampak mengintip-ngintip isi mobil pilihan saya itu sambil berkata singkat, “Bagus!”
Tumben … cocok hahhahha. In a way, lega juga saya dengan comment nya.

Di dalam mobil ….

Me : Betah amat di tengah laut?
Sonny : Heheheh … namanya juga project baru jalan.
Me : Sedep!
Sonny : Eh Wig …
Me : Ya, Nik?
Sonny : Undangan buat kamu, aku jadiin satu sama Raka (arsitek saya yang kebetulan desainin rumah dia a.k.a rumah Uti) sama Lika sekalian ya?

PYAAARRRR … Grombyanggggg …. tenang-tenang-tenang.

Me : ehm ehm (berdehem) owh … yang diomongin Ipus sama Anti kapan itu ya? (Note: adik-adik Sonny)
Sony : Kapan ketemu mereka?
Me : 2 minggu lalu kali, pas kamu brangkat offshore. Biasalah … salon day!
Sonny : ngomong apa mereka.
Me : ngomong kalo kamu mau merit, cuman pas aku kayak clueless mereka bilang … owh belum kok mbak wig, ntar mas son aja yang ngomong. Kok baru cerita sekarang, Pak?
(pengen rasanya bilang kalo adek-adekmu bilang, mas son maen misterius-misteriusan mbak! semuanya diurus sendiri! Tapi saya urungkan niat saya itu)
Sonny : Pamali, Bu! Lagian undangan juga baru jadi. Kalo belum settled semua kayaknya agak kurang pantes digembar gemborin dulu. Takut batal lagi …
Me : Aisee …

Pembicaraan berlanjut ke hal-hal umum … tapi kok deep down rasanya aneeehhhh sekali!

He’s getting married soon. My best friend’s wedding. And I would be Julia Roberts in this case. Arrrrrgggghhhhh!!! The idea of he’s getting married really really bothers me a lot. It’s not that I’m not happy for him! But the long lost unfulfilled feeling that suddenly reoccurs and it really pisses me off! All along, I always have this feeling that there’s a missing link why me and him are not together. Deep down I feel that he has the same thought, but … it’s just damn too late now! Spent the next two days in tears bukan nangis gila-gilaan … cuman ntar kenapa air mata gak abis2 tumpah. Silly … silly … silly!
Damn! Siapa sih kamu Adrian Laksonoooo … bisa bikin saya kayak beginiiiiiiii!?!?!?!?!?

Oops … tenang, tenang, tenang! Sambil merencanakan sesuatu …. dududududu …

Create a free website or blog at WordPress.com.