PILKADA : Position or Power?

Kalau saya amat-amati secara sepintas, satu bulan belakangan ini sangatlah ramai di media-media campaign mengenai local PILKADA. Moreover, pada saat saya tugas ke luar kota, baliho-baliho raksasa di mana-mana dengan wajah-wajah para calon-calon tersebut. Some of them familiar, some of them … we just don’t even know who they are and where they come from?

Cara campaign kalo saya amat-amati juga bermacam-macam. Dari cara yang canggih a la Hillary Clinton dan Barrack Obama, seperti membuat iklan yang mengimpress masyarakat buat VOTE for them (which I have almost never impressed with this kind of campaign since I have seen movies related to presidency and campaign ever since I was a little). This kind of campaign certainly would cost a fortune and only those who really have a big influence would be able to do this. Eventhough tidak tertutup kemungkinan bahwa these candidates mendapatkan dana dari donatur yang menginginkan mereka buat naik ‘tahta’.  The other kind of campaign adalah yang tadi saya sebut seperti pasang baliho-baliho di jalan-jalan, atau melakukan kegiatan layanan masyarakat yang involving the candidate or even membuka rubrik yang menampung concerns dari masyarakat, about apa yang mereka inginkan dari calon pemimpin mereka, perbaikan infrastruktur dan most of all adalah perbaikan nasib.

With regards to those candidates, saya ada beberapa pemikiran … (o’on siy, cuman can’t help it?)
1. Candidates yang unfamiliar to the eyes of the public, gimana cara nya they will be voted outside their own circle?
2. Some of the candidates menurut saya degrading their position by running for certain position in PILKADA. Why? Beberapa contoh yang obvious saya liyat, Agum Gumelar (used to be one of the minister) running for gubernur Jawa Barat atau Syaifullah Yusuf a.k.a Gus Ipul (used to be menteri juga) mendampingi Sukarwo a.k.a Pakde Karwo menjadi wakil gubernur. Hmmm  … Wow! Bodo-bodoan, posisi Gubernur itu kan di bawah Menteri, betul???? Berarti … mereka melakukan penurunan posisi dong ya? Bayangkan saja, para gubernur used to report to them dan kalo akhirnya mereka terpilih … berarti … mereka lapor kepada menteri yang terkait dong ya? Hmmm …. apakah mungkin terjadi Post Power Syndrome when it happens???
Apakah sebegitu pentingnya untuk memegang posisi (whatever it is)??? Karena secara hierarkiah … sangat-sangat tidak masuk akal. Basic needs dari orang-orang adalah climbing to the top instead of sliding down. Is it the matter of having any kind of power in their hands? Atau, metaphorically speaking, bener-bener coming from the bottom of their heart to make things better? Who knows?
3. Beberapa Public Figure (sebut saja artes) running for the position. Is it a real sincere wishful thinking untuk bisa melakukan sesuatu untuk daerah-daerah tertentu. Mengembangkan kondisi daerah menjadi lebih baik, mengurangi pengangguran, memberikan pendidikan cuma-cuma dan mengurusi warga-warga terlantar. Again, wow … such a nice wishful thinking but I do hope that they have the tools, the equipments, the ways to do all those have been published to the eyes of the public.

However, being a good leader is not all about position or power. A good leader is someone who is able to change things into a better condition. Somebody who is able to combine transactional and transformational leadership. Trend kepemimpinan yang TOP to BOTTOM, you do as I said is not in the agenda any longer. Somebody who is charismatics, mengerti what’s going on actually in reality dan open-minded menerima input ataupun kritikan dari siapa itu would make a good leader for all seasons. That’s what a transformational leader is all about.

Anyway, tumben-tumbenan saya nulis beginian …

PS: Congratz utk yang baru kepilih … bangun tidur ngantuk-ngantuk ehhhh ada berita yang baru kepilih.

Advertisements

13 thoughts on “PILKADA : Position or Power?

  1. However, being a good leader is not all about position or power. A good leader is someone who is able to change things into a better condition.

    SETUJU!!!!
    Tapi sayangnya banyak yg tergiur dengan posisi atau kekuataan dibandingkan amanah untuk memajukan bangsa ini 😦 . Blum lagi sosialisasi yang menurut aku berasa kurang, mereka emang memasang baliho segede raksasa dan menyebarkan flyer wajah2 mereka, tapi visi dan misi mereka apa orang2 juga mengetahuinya dengan lebih seksama?? Ga taukk sapa yg salah, apa masyarakatnya terlalu cuek atau pemerintah yg kurang bersosialisasi.

    Semoga para gubernur2 yg terpilih benar2 bisa membantu rakyat. Memajukan negara ini lebih baik lagi. Amien . . .

  2. Jujur aja, saya belum tau kelebihan dan kekurangan apa yang dimiliki oleh calon2 gubernur dari daerah saya. Padahal, saya bener2 pengen milih, pengen menggunakan hak suara saya, tapi saya ga mau salah pilih [lagi-red] , jadi saya bingung..milih ato golput?

  3. bahasa nya mumet.. 😦 *ga kebayang kalo nambah sunda jawa disini :p hihi

    permasalahannya kemiskinan struktural negeri ini, membuat sodara2 kita lainnya tidak berpikir sejauh itu. Malahan ada quote politik yang sangat kasar
    “Biarlah mereka bodoh, semakin mereka bodoh, semakin mereka akan mengikuti kemauan kita..”

    itulah mengapa politik era zaman batu memaksakan strata sosial.. 😉

    Btw nice blog,..
    *dateng2 udah ngomel2 saya.. 😐

  4. I’m not politically aware, but still wishing for a transformational leader coming in Indonesia. Kalo di Amrik bakalan ada Obama, tokoh muda yang membawa pembaharuan… mudah2an di Indonesia tercinta ini juga bakalan muncul tokoh muda baru yg bisa bikin perubahan.

    Mba wiggy berniat ikutan politik juga??;)

  5. hehehe… ia sih, aku pribadi ya ga mudheng sama siapa mereka. Tp mungkin yg paling penting adalah bagi masyarakat di dalamnya sendiri, smoga milihnya ga sekedar karna ngiler “ngiler” gara2 iklan gitu doang…

  6. wah, politik tuh bikin binun…

    kaya pepatah orang jawa…

    “soyo gedhe soyo abot nggowone”

    jadi semakin besar power dan posisi kita

    disuatu instansi pemerintah, maka yah

    semakin berat juga kita harus menanggung

    resiko yang akan terjadi…

  7. otonomi kan munculin “raja2” kecil baru

    konon Orang Super Kaya Indonesia jumlahnya bertambah setiap tahunnya…
    how come… how long… nodong nich! pastinyaaaaaaaaa ^^

    *piss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: