then … I become Julia Roberts ….

Mobil saya udah hampir sebulan bulan umurnya, Sonny belum juga sempet mampir tiap kali balik dari off-shore. Kayaknya langsung balik ke kampung halaman gak mampir-mampir rumah eyangnya yang sebelahan kompleks dari rumah saya. Then, I just carried on with my life, such as working, socializing, doing papers and attending weddings. Lagi musimnya mungkin. Kira-kira bulan lalu … pada saat saya bersiap-siap ke nikahan Bram temen kuliah saya … tiba-tiba ada telpon masuk. Di LCD tertulis Adrian Laksono.

Me : Iya bapaaaak … ada apa?
Sonny : Hey buk … Lagi ngapain?
Me : Bram nikah … dapet undangannya ‘kan?
Sonny : Dapet! Brangkat ama sapa?
Me : Rencana nya ama Gondo, Bogel, Ardi, Eka, sama awalnya Aldo di sini juga.
Sonny : Owh dia gak offshore.
Me : Gatau pak *ketus mode on*
Sonny : terus?
Me : Keknya berangkat sendiri, akhirnya. Gatau tuh anak-anak mo dateng earlier soalnya mau nganter Aldo ke airport.
Sonny : Udah siap?
Me : Dari tadi sih soalnya janjinya mo dijemput, tapi secara gak jadi buru-buru … ya aku mau ngadem dulu.
Sonny : Give me stengah jam bisa? Aku mau cukur-cukur dulu, dll.
Me : Kamu di mana Pak?
Sonny : Lagi di Uti (eyangnya) nih … Okay? Click!
Me : SPICLESS …

20 menit kemudian saya keluar kamar, udah gak keringetan … ngobrol bentar sama mamieh dan tiba-tiba …
“Malem, Tante!”
Sonny udah di ruang makan dengan gantengnya pake batik madura yang bagus banget. Saya sempet amazed liat temen saya for 15 years ini. He really looks a lot younger than his real age. Hanya gurat-gurat tipis tersamar di ujung matanya yang tak bisa menipu kalau dia sudah tidak 25 lagi seperti yang banyak diduga orang.
“Eh, Son … udah lama?”
“Barusan kok tante. Wig, langsung?” Singkat dan tegas.
“Mieh … jalan!” Salim dan tak kalah singkatnya.

Di car port dia nampak mengintip-ngintip isi mobil pilihan saya itu sambil berkata singkat, “Bagus!”
Tumben … cocok hahhahha. In a way, lega juga saya dengan comment nya.

Di dalam mobil ….

Me : Betah amat di tengah laut?
Sonny : Heheheh … namanya juga project baru jalan.
Me : Sedep!
Sonny : Eh Wig …
Me : Ya, Nik?
Sonny : Undangan buat kamu, aku jadiin satu sama Raka (arsitek saya yang kebetulan desainin rumah dia a.k.a rumah Uti) sama Lika sekalian ya?

PYAAARRRR … Grombyanggggg …. tenang-tenang-tenang.

Me : ehm ehm (berdehem) owh … yang diomongin Ipus sama Anti kapan itu ya? (Note: adik-adik Sonny)
Sony : Kapan ketemu mereka?
Me : 2 minggu lalu kali, pas kamu brangkat offshore. Biasalah … salon day!
Sonny : ngomong apa mereka.
Me : ngomong kalo kamu mau merit, cuman pas aku kayak clueless mereka bilang … owh belum kok mbak wig, ntar mas son aja yang ngomong. Kok baru cerita sekarang, Pak?
(pengen rasanya bilang kalo adek-adekmu bilang, mas son maen misterius-misteriusan mbak! semuanya diurus sendiri! Tapi saya urungkan niat saya itu)
Sonny : Pamali, Bu! Lagian undangan juga baru jadi. Kalo belum settled semua kayaknya agak kurang pantes digembar gemborin dulu. Takut batal lagi …
Me : Aisee …

Pembicaraan berlanjut ke hal-hal umum … tapi kok deep down rasanya aneeehhhh sekali!

He’s getting married soon. My best friend’s wedding. And I would be Julia Roberts in this case. Arrrrrgggghhhhh!!! The idea of he’s getting married really really bothers me a lot. It’s not that I’m not happy for him! But the long lost unfulfilled feeling that suddenly reoccurs and it really pisses me off! All along, I always have this feeling that there’s a missing link why me and him are not together. Deep down I feel that he has the same thought, but … it’s just damn too late now! Spent the next two days in tears bukan nangis gila-gilaan … cuman ntar kenapa air mata gak abis2 tumpah. Silly … silly … silly!
Damn! Siapa sih kamu Adrian Laksonoooo … bisa bikin saya kayak beginiiiiiiii!?!?!?!?!?

Oops … tenang, tenang, tenang! Sambil merencanakan sesuatu …. dududududu …

Kaget boww ….

Belakangan ini, suddenly load kesibukan jadi meningkat drastis. Penyelesaian kuliah yang counting down kurang 8 minggu lagi dan juga persiapan pembukaan kantor cabang baru bener-bener membuat saya lumayan jungkir balik! Rasanya seperti too much things to do within a single moment. Ouch! Terkadang at the end of the day, pikiran saya cuman … pengen kelonan sama guling dan zzzzzzzzzz …. Begitu terus selama sebulan belakangan ini!

Minggu ini (or kemarin?), berasa seperti peak-peaknya. Tugas paper ada 3 biji belum kepegang dan opening di depan mata. Sebenernya, saya sudah mencoba buat jadi Transformational Leader dengan mendelegasikan beberapa macam hal kepada yang nantinya involve langsung di cabang baru tersebut. And … I did! Cuman in the very last moment alhasil, Sam (boss saya) tetep bilang, “Wig, tolong ya anak-anak dibantu biar lancar. Lo kan baik banget!” OKAY … urusan perijinan dll sebagian saya take over dan dikerjakan oleh asisten saya. Urusan Catering saya serahin ke calon anak-anak cabang (walopun at the end, saya agak kurang puas … yaolooo sayang, kalo milih menu yg bener dongg!!).

Anyway, pada saat press conference segalanya sudah all set. Si calon kepala cabang, Lisa, juga sudah saya brief mengenai materi prescon dan latihan kasih speech malem sebelumnya. Sempet sih dia bilang, “Mbak Wig … kalo blepotan gimana?”. Saya jawab aja … “Ya udah resiko, Lis. You’re on your own! Makanya bikin list apa yg mau diomongin!” DONE.
Wartawan sudah berdatangan, anak-anak cabang yang udah dapat tugas buat mingle dan greet the guest sudah take position. Fiuhhh … lega … semoga ngomongnya gak basi aja mereka. Untungnya Oka, si Marketing Coordinator, ikutan terjun buat mingle sama wartawan-wartawan itu. Saya juga sih … ikutan mingle dan ngobrol dengan Tonny, salah satu reporter dari sebuah radio FM yang jadi kiblat life style di Indonesia (halaaah!).

Pada saat saya sedang ngobrol dengan Tonny ini, tiba-tiba ada wartawan lagi dari sebuah harian yang melewati saya. I didn’t really notice tentang si mas wartawan ini. //pro.corbis.comSejurus kemudian, Rani si supervisor dari cabang itu menyambut ramah, “Siang Mas, Saya Rani dari divisi ini … mohon maaf dengan Mas siapa ya?” sambil mengulurkan tangan untuk menyalami. Sambil menyalami balik tapi sambutan dari mas agak sinis, “Gak baca buku tamu ya, Mbak! Dibaca dulu dong buku tamunya … gimana sih?” DAMN! Saya yang berada tidak jauh dari situ langsung kaget dan menoleh pada Rani. Saya lihat dia sudah speechless tidak tau harus berkomentar seperti apa? While Si Tonny pun mahfum melihat wajah saya yang kaget berat. Dengan becanda dia bilang, “Mestinya aku tadi gituin Mbak Wig kali ya? DIbaca dulu dong guest list nya baru nyapa …” ujarnya kenes. Saya cukup terhibur, cuman ya itu … I was still in the state of shock!

Saya sebenernya masih gak ngerti, apakah Rani mengucapkan kata yang salah? So far … menurut saya, pertanyaan dia terhadap sang wartawan juga masih wajar. Bersikap friendly dan sopan. Saya tidak membela si Rani, cuman apabila dia melakukan kesalahan, saya pikir mungkin hanya karena dia tidak mengecek guest list siapa yang akan dia temui. Bisa saja sih dia langsung tembak, “Siang … mas bejo dari emprit media ya?” Lah iya kalo yang dikirim itu mas Bejo? Lah kalau orang lain.

Dan saya kurang ngeh juga, apakah si mas dari koran ini berpikiran, “lo butuh gue … jadi gue boleh dong ngomong apa aja?” atau simply dia sebel karena dia tidak dikenal atau bagaimana ya? Or … peresmian kantor cabang saya is not really worth buat diliput. *sigh*
But then again, tidak semua orang bisa merespon dengan baik apa yang dikatakan oleh orang lain. Walaupun just simply being polite wouldn’t cause any damage.

Menurut saya, antar pelaku bisnis dan media sudah sewajarnya membina suatu simbiosis mutualisme antar satu dengan yang lain. Pelaku bisnis membutuhkan media untuk mengkomunikasikan produk atau program yang mereka miliki, begitupun media juga membutuhkan berita untuk dipublish. Saya pikir, saling menghormati satu sama lain tidak ada salahnya dalam pergaulan. Bukan hanya dalam konteks ini saja, tapi juga untuk banyak occassions yang lain. Jadi masing-masing pihak dapat menjaga tutur kata dan tindak tanduk sehingga tidak menyinggung antara satu pihak dengan yang lain. Bisa jadi sih apa yang dilakukan mas wartawan tadi adalah some kind of a joke … or else, his own way untuk lebih mengenal si Rani yang nyata-nyata kliatan banget manisnya. But who knows lah!

picture was taken from http://pro.corbis.com

PILKADA : Position or Power?

Kalau saya amat-amati secara sepintas, satu bulan belakangan ini sangatlah ramai di media-media campaign mengenai local PILKADA. Moreover, pada saat saya tugas ke luar kota, baliho-baliho raksasa di mana-mana dengan wajah-wajah para calon-calon tersebut. Some of them familiar, some of them … we just don’t even know who they are and where they come from?

Cara campaign kalo saya amat-amati juga bermacam-macam. Dari cara yang canggih a la Hillary Clinton dan Barrack Obama, seperti membuat iklan yang mengimpress masyarakat buat VOTE for them (which I have almost never impressed with this kind of campaign since I have seen movies related to presidency and campaign ever since I was a little). This kind of campaign certainly would cost a fortune and only those who really have a big influence would be able to do this. Eventhough tidak tertutup kemungkinan bahwa these candidates mendapatkan dana dari donatur yang menginginkan mereka buat naik ‘tahta’.  The other kind of campaign adalah yang tadi saya sebut seperti pasang baliho-baliho di jalan-jalan, atau melakukan kegiatan layanan masyarakat yang involving the candidate or even membuka rubrik yang menampung concerns dari masyarakat, about apa yang mereka inginkan dari calon pemimpin mereka, perbaikan infrastruktur dan most of all adalah perbaikan nasib.

With regards to those candidates, saya ada beberapa pemikiran … (o’on siy, cuman can’t help it?)
1. Candidates yang unfamiliar to the eyes of the public, gimana cara nya they will be voted outside their own circle?
2. Some of the candidates menurut saya degrading their position by running for certain position in PILKADA. Why? Beberapa contoh yang obvious saya liyat, Agum Gumelar (used to be one of the minister) running for gubernur Jawa Barat atau Syaifullah Yusuf a.k.a Gus Ipul (used to be menteri juga) mendampingi Sukarwo a.k.a Pakde Karwo menjadi wakil gubernur. Hmmm  … Wow! Bodo-bodoan, posisi Gubernur itu kan di bawah Menteri, betul???? Berarti … mereka melakukan penurunan posisi dong ya? Bayangkan saja, para gubernur used to report to them dan kalo akhirnya mereka terpilih … berarti … mereka lapor kepada menteri yang terkait dong ya? Hmmm …. apakah mungkin terjadi Post Power Syndrome when it happens???
Apakah sebegitu pentingnya untuk memegang posisi (whatever it is)??? Karena secara hierarkiah … sangat-sangat tidak masuk akal. Basic needs dari orang-orang adalah climbing to the top instead of sliding down. Is it the matter of having any kind of power in their hands? Atau, metaphorically speaking, bener-bener coming from the bottom of their heart to make things better? Who knows?
3. Beberapa Public Figure (sebut saja artes) running for the position. Is it a real sincere wishful thinking untuk bisa melakukan sesuatu untuk daerah-daerah tertentu. Mengembangkan kondisi daerah menjadi lebih baik, mengurangi pengangguran, memberikan pendidikan cuma-cuma dan mengurusi warga-warga terlantar. Again, wow … such a nice wishful thinking but I do hope that they have the tools, the equipments, the ways to do all those have been published to the eyes of the public.

However, being a good leader is not all about position or power. A good leader is someone who is able to change things into a better condition. Somebody who is able to combine transactional and transformational leadership. Trend kepemimpinan yang TOP to BOTTOM, you do as I said is not in the agenda any longer. Somebody who is charismatics, mengerti what’s going on actually in reality dan open-minded menerima input ataupun kritikan dari siapa itu would make a good leader for all seasons. That’s what a transformational leader is all about.

Anyway, tumben-tumbenan saya nulis beginian …

PS: Congratz utk yang baru kepilih … bangun tidur ngantuk-ngantuk ehhhh ada berita yang baru kepilih.

Balada Car Hunting

Saya tidak pernah menyangka, car hunting can be this difficult. Saya selalu percaya for everything … semua hal ada jodoh nya, seperti juga beli barang apapun itu. Hal yang simpel, seperti saat saya beli baju. Saya bukan termasuk tipe konsumtif yang tiap kali masuk toko, saya pasti belanja. Based on my needs seperti baju, pada saat saya butuh … belum tentu pada saat itu juga saya masuk toko, belanja, pasti langsung dapet, Happy Ending. It’s not as simple as that. Saya selalu berpikir, barang itu yang akan memanggil saya. Terkadang saya bisa menemukan baju yang posisi nya kadang agak nyelempit, tapi pas, cocok dan menghasilkan Happy Ending pada acara belanja saya.

Begitupun acara car hunting saya kali ini. Sebelum-sebelumnya, saya tinggal terima jadi … alm. Papie saya, kakak lelaki saya ataupun suami kakak saya yang lebih involve dalam pemilihan dan pencarian mobil untuk keluarga kami. All these years sejak saya bisa setir sendiri, ngertinya cuman pake doang. The rest, Mr. Driver takes care of the rest heheheeh … supir-supir kami have been in the family for 30 years. Pak Man akhirnya retired beberapa tahun yang lalu, sambil every once in a while nongol ke rumah sekedar ngobrol-ngobrol dengan mamie atau kalau ada acara di rumah, nongol sambil bawa sajen (lemper buatanya bu Man enaaaaaak banget). Cak Nono, kalau gak salah dari saya masih bayi juga udah joined the club, sampe sekarang udah bercucu … jadi oper ikut keluarga kakak cewek saya. Alhasil, sekarang kami (saya dan mamie) kebagian si Mindy. Halaaah … jadi inget serial tahun 80an, si Mork and Mindy. Aslinya namanya si Parmin. Mindy ehhh Parmin, dulu ikut keluarga Tante saya. Cuman karena we considered Tante saya rada nyentrik, eh lah kok nular ke mantan anak buah nya. Sering kali mislek antara order kami dengan hasilnya. Next time, saya ceritain deh … gimana errornya si Mindy … bikin saya gulung-gulung bener.

Anyway (kok jadi nglantur), dongengnya berawal dari mobil yang biasa dipake mamie considered to be old dan akhirnya kita putuskan untuk dijual saja. Mamie berpikiran untuk mentake-over mobil saya yang considered as mobil niaga, yang bisa dipake rame-rame sama temen-temen arisan, temen ngaji ato temen-temen golf nya mamie yang segambreng itu. Well … okay … MONGGO. It leaves me carless for weeks, event almost a month. Tapi saya jadiin kesempatan, mayan juga gak usah nyetir! Mindy ready buat anterin saya ke mana2. Sebagai perempuan penebeng nomer 1, saya juga harus menyesuaikan jadwal saya dengan acara Mamie ataupun jadwal Mindy jemputin keponakan-keponakan saya. Hmmm … saya jadi tau, kao saya gak di rumah kegiatan lain dari Mindy adalah supir cadangan kakak tertua saya buat jemputin anak-anaknya.

Apakah saya buru-buru cari the new one? Errr … enggak juga. Saya tiap hari liat iklan baris di koran … tapi barangnya belum manggil. Sampai my best Buddy sejak jaman kuliah, Adrian Laksono, yang kebetulan lagi jadwalnya pulang dari offshore saya paksa-paksain buat nganterin saya berburu mobil. Sapa tau ada mobil yg manggil heheheh …
Senin itu saya lagi sakit, tidur seharian di rumah … eh sore-sore Sonny (panggilan Adrian) telpon.
Sonny (S): Bu, mau jalan jam berapa?
Me : Loh, aku hari ini teler Pak. Masuk kantor aja enggak.
S : Ya elaah … mumpung aku blum balik offshore buuuu. Bisa bangun ‘kan?
Me : Bisa sih.
S : OK, gw jemput jam 4 ya?
Me : Ya wes … *pasrah*

Sampai rumah saya, instead of langsung berangkat, dia malah masuk-masuk rumah saya liat detil tangga, cabinet di dapur, pintu wese saya yang agak exhibitionist kata orang-orang. Dia bawa si Gondo, temen kuliah saya yang jadi kontraktor (sebenernya saya udah booking si Gondo buat renovasi cabang baru kantor saya, alhasil sempet tarik-tarikan antara saya dan Sonny buat dapetin si Gondo … halaaah capedeeeee!). Setelah puas, dia langsung buru-buru ngajak saya cabut.

Sampai di tempat orang yang punya mobil yang kayak saya pengenin sudah menjelang maghrib, tapi masih cukup cahaya matahari buat ngecek. Well … I left it all to him. Begitu pintu garasi dibuka … saya langsung … melongo …. this is like a dream come true! I really want this car … silvery and looks really nice.
Saya bisiki Sonny, Bagus ya Pak?
Sonny hanya bilang … hmmmm!
In 15 years, he hasn’t changed a bit. Saya hanya liat dia dari kejauhan, agak serem, dengan gaya nya yang a la Gogon itu waktu melihat kap mesin, dan bagasi. Pandangannya sangat menusuk … JLEB!
Sedang si Gondo asik-asik melihat mesin sambil menyalakan senter (I’m pretty damn sure dia gak terlalu ngeh tentang mesin), Sonny menyalakan mesin. Saya ikut masuk ke dalam mobil, sambil ngobrol bisik-bisik dengannya.
“So??” tanya saya.
“Kamu mau mobil ini Bu?”
“I don’t know? Looks good sih.”
“Kamu mau aku nawar?”
“Errr … aku belum liat yang lain sih. What do you think?”
“Not bad, tapi aku gak berani recommend. Just standard sih.”
“Trs …”
“Sabar lah, kita cari yg lain ya Bu?” Saya mengangguk pasrah.

Di perjalanan pulang, mulei deh ceramah tentang mobil. Yang A, B, C, D … at the end, udah lah … kalo gak buru-buru, ntar gw tanyain temen-temen. Anak-anak mesin banyak yg jual beli mobil kok. CAPEDEEEEEE …
Ternyata saya harus meneruskan karir sebagai prempuan penebeng lagi. Ternyata jadi perempuan penebeng itu kurang nyaman. For every once in a while emang enak … gak perlu nyetir sendiri, dianter jemput. Tapi kalo tiap hari … aduuuuuu …. gak deh! Kudu properly liat jadwal mulu. Dan buntut-buntutnya, Mamie udah mulei … “Kalo cari mobil yang serius!” Hmmmm … mulei bosen ditebengi deh si Mamieh! Tapi somehow, saya teuteup yakin, “You’ll find me!”

Pernah sih saya berusaha sendiri, cewek-cewek berdua sama Ambalika Kusuma, sahabat saya dari SMP pas abis nyalon di minggu yang cerah, berburu mobil yang saya pengen. Mana di koran disebutin harga yang agak miring … Saya minta Lika but nelpon si pemasang iklan.
Lika (L): Pak Oris?
L : Kalau mau liat mobil masih ada?
L : Minta berapa?
L : Alamat?
L : Bagus gak ya?
L : Loh Bukan Pak Oris? Dengan siapa? Owhh Pak Reza, okay deh.

Me : Pak Reza apa Pak Oris?
L : Pak Reza.
Me : Lah kok Pak Oris?
L : Niii liattt … Oris kan? Terus nomer telponnya? Ya gw cari Pak Oris dong?
Me : *Bingung mode on* Geblekkkk … Oris tuh orisinall kaliiiii
L : Bow … serius lo? Wah, gw gak ikutan turun deh … malu gw!
hahahahahahahahh ….

Ternyata sekelebatan mobil itu tidak seperti dugaan kami. Body kurang yahud. Untung gak ngajak Sonny. Bisa tambah panjang aja itu slepetan Sonny buat saya.

Belum sempet dia dapetin mobil buat saya, ehhh … tiba-tiba dia udah jadwalnya balik melaut. See you in two weeks time! Mau gak mau saya hunting lagi sendiri, dengan keyakinan … Find me … Find me … you silvery classy luxurious car! (aduh aduh aduh … saya mulei hyperbolic!). Didn’t do too much effort, di sabtu pagi yang indah, pada saat saya akan berangkat ngantor … ehhh … ada satu iklan tentang that silvery classy luxurious car (at least based on my own version). Saya tinggalin nomer telpon untuk ditelpon either my mom or Cak Nono or even my brother/brother-in-law.
Finally, it’s a done deal! Walopun pas sampe rumah si Mamie bilang, ipar saya rada ngomel … katanya dia udah persuade temennya buat jual mobil nya buat saya. WHATTTT??? Are you crazy or what??? Ide yang menurut saya agak absurd … orang gak mau jual mobilnya, kok dipaksa-paksa. Sutra laaa … SHe’s such a nice person cuman suka denger her own inner voice instead of yang menurut kewajaran bersama.

At the end, everybody’s happy …

Sepulang kantor, Senin kemaren … that silvery little thing already in the car port waiting for me. Saya elus perlahan, “Finally you found me!”

The only thing yang ingin saya lakukan adalah ….. jadi pengen cepet-cepet nunjukkin ke Sonny … what a nice silvery classy luxurious little thing in my car port now. Cepet pulang, Sonnnn!

Unhappy People … It’s all in the state of mind par deux

Kalau diingat, saya pernah posting kayak gini nih (boleh diclick dulu kalo lupa) yang inti nya ada teman saya yang sangat-sangat tidak happy dengan hidupnya, mengirikan hal-hal yang di luar dari dirinya, dan nothing seems to be right lah intinya gituuuu.

Kemarin siang, tiba-tiba dia online yang menanyakan masalah video call. Saya jawab seadanya karena saya juga tidak terlalu tau banyak tentang gadget yang terlalu canggih. Mulei deh dia jelek-jelekin dirinya sendiri. Aku tuh emang gaptek deh, Mbak! Gak ngerti bedanya 3G ama ini itu blabla ahak ahak …

Ceritanya Yoga suami Dina bakal ditugaskan beda kota dengannya. Sambil menunggu settling down di tempat baru, mereka akan menggunakan jasa 3G ini ato video call atau apa lah. Biar si Genduk bisa liat bapaknya. Saya bilang, Bagus dong Din! heheheh … in her case … saya suka jadi kayak motivator, mengungkapkan kata-kata yang encouraging while dia semakin dipuji semakin ngomong nya enggak-enggak! As usual, kalo saya lagi bisa menahan diri, kalo saya lagi in a very good mood, I surely can put up with all her unhappiness, kalo kumat ya saya slepet ajah!

Beberapa hari yang lalu, saya lagi PMS dan gabisa nemu coklat di mana-mana, eeehhh dia asik-asik aja cerita kalau kepindahan suami nya membuyarkan segala impian mereka (ato impiannya ya?). Mereka baru aja DP or beli ya (kurang ngeh) second home mereka, yang rencananya bakal didesign sesuai dengan rencana mereka. Huge backyard and everything. Pokoke udah well-planned lah. Tapi dengan new assignment yg didapet Yoga semua nya istilahnya fall apart in pieces. Curhat lah dia dengan berbagai macam ucapan yang menguras energi saya. Capek lah, sebel lah ….
Asyik … kesempatan, saya slepet aja dulu sekali.
Me : Emang mas Yoga dapet gajinya kecil banget ya sampe dirimu menyesali keputusan Mas Yoga? (pdhal saya tau banget kalo si Yoga ini ketrima di perusahaan oil gas yang bereputasi international).
Dina (Dn) : Gak sih, malah dapet nya lebih gede banget bisa buat tambah-tambah ini itu.
Me : Good dong! Alhamdulillah … (sedappp … segitunya saya … dia sebel malah saya alhamdulillah in!)
Dn : Tapi aku gak suka rencana yang udah kita buat jadi buyar.
Me : Sebuyar apa? Bikin kamu gak bisa hidup dan akan menderita selamanya karena putusan mas Yoga? (asyik … hiperbolic mode on!)
Dn : Rumah itu mbakkk … impian ku … aku udah rancang-rancang. 1/2 eM di tempat baru gak bakal jadi apa-apa? Paling rumah kecil standart gitu. (Mulei dehhh .. muleiiii …1/2 eM, kalo dibeliin krupuk bisa buka pabrik kali ya?)
Me : Aisee … sayang banget yaaa?
Dn : Ya iya laaaahhhh … pokoke sebel berat lah!
Me : Yo wes … pisahan aja kalian. Ketemuan 3 bln sekali! At least dia cari duit di tempat baru, aliran kas lancar, rumah baru tetep seperti rencana, problem solved ‘kan? (biar mampus … saran saya buat pisah kota dan ketemuan 3 bln skali! Sadis kaliii)
Dn : Ya gak gitu sih maksudnya, tp aku gak tahan … aku benci sama situasi ini.
Me : Okay … kalo benci … mau dibiarin apa cari jalan tengah?
Dn : Ya pasti jalan tengah lah …
Me : Okay then … work it out! Let me know kalo butuh bantuan. (TITIK … gak usah pake panjang-panjang!)

Ehhh tadi siang, saya lagi in the middle of ngerjain proposal tesis saya plus persiapan presentasi, si Dina buzz lagi.
Me : Ada apa toh darling?
Dn : Lagi ngapain?
Me : Presentasi siap-siap
Dn : Beruntung ya kamu mbak? Masi bisa terlibat di dunia pendidikan daripada aku yang otaknya udah gak pernah dipake, cuman buat terima perintah doang, lama-lama jadi kopyor kali??? (Belum apa-apa udah curhat mode on tingkat wahid!)
Me : I don’t see it that way. Mungkin emang jalannya aku kudu sekolah lagi. Kalo masalah enjoy opo enggak … dijalani aja kok, following the flow.
Dn :Tapi tetep kamu lebih beruntung dari aku mbak. Kamu bisa mengasah otak di dunia akademis, dll
Me : Gak segitunya kok. Cukup santei, lagian aku gak pinter-pinter amat ini (better gak dimention kan kalo IP saya cumlaude, bisa pengsan gara2 iri hati dan dengki hahahahah) … kalo di kelas aku tuh cuman diem dan mencoba menikmati kelas. Temen-temennya kebetulan asik-asik … jalan deh!
Dn : Apalagi mas Yoga bilang, kalo ada kesempatan tahun depan dia juga mau sekolah lagi.
Me : Good news! Hebattt ya Mas Yoga mu. Buat Career Advancement itu bagus loh!
Dn : hmmm …. dan aku semakin tertinggal :( (Suami sendiri juga diiriin … *geleng-geleng*)
Me : Gak lah … you have your own thing. Aku gini kayaknya sekolah tapi bagi waktunya juga gak segampang itu, makanya dibawa nyantei. Kalo enggak tegang terus, untung dapet temen2 semacem … bisa share.
Dn : Masih enak itu … masih bisa interaksi dengan dunia akademis.
Me : Masalahnya bukan enak gak enak. Mungkin emang jalannya kayak gitu. Dienjoykan aja, diikuti aja flow nya. Kalo mikirin enak-enaknya orang lain terus … gak bakal ada abisnya. (alias mengirikan nasib orang lain … Another slepetan!)
Dn : Tapi believe it or not … RUMPUT TETANGGA SELALU LEBIH HIJAU DARI RUMPUT KITA SENDIRI!!!
Me : EMang it’s nice mikirinnya. Cuman apakah rumput hijau itu nampak sehijau pada saat masih jadi rumput orang lain?
Dn : Tapi asli … aku ngiri ama orang-orang single yg bisa bebas berkarir dan menetukan jalan hidupnya sendiri. Gak kecantol apa-apa, gak ada kewajiban apa-apa kecuali pada dirinya sendiri. (ini sih jelas-jelas … tittle nya ngiri!)
Me : Kalo aku boleh ngiri … ngiri loh ama orang yg udah nikah! Semua tanggung jawab dan beban bisa di share.
Dn : Kenyataannya gak selalu gitu kok mbak!
Me : Heheheh … marriage life is not always easy, aku ngerti … Aku bukan tipe prempuan umur 20an yg masih ngebayangin enak-enaknya kehidupan pernikahan. Aku masih berpikiran bahwa enak juga ya orang2 yang udah nikah. Tapi apa aku harus ngiri terhadap hal yang tidak aku punyai for the time being? Aku masih mempunyai ultimate goal buat nikah sebagai suatu fase yang ingin aku capai? ingin aku dapet? Mengenai bagaimana-bagaimananya … udah diserahin aja sama yang di Atas. Pasrahin aja. Gak gampang sih ilmunya ikhlas, tapi sekali kamu dapet feel nya … everything would be a lotttt easier. Hidupmu bisa berubah 180 derajat. Caranya gimana? Gak ngerti juga, kudu dilakoni! (Slepetan panjang dan lebar!)

Sampai agak lama … tidak ada balasan. Saya gak tau juga kadarnya, apakah sedikit menyilet hatinya ataukah sudah bagaikan teriris-iris sembilu.

A good friend is a friend for all season. Warm you up whenever it’s cold. Chill you out when you’re hot! Cover you up when the rain comes, and hold you up when the breeze of the autumn softly blow the wind up to the trees. Saya selalu ingin jadi orang seperti itu untuk teman-teman saya. Just be there when they need me. Cuman, saya juga masih manusia normal yang punya batas toleransi. Saya selalu siap whenever temen-temen saya butuh tempat buat curhat, tapi at some points yang mana sudah tidak bisa ditolerir lagi … saya juga siap dengan slepetan saya, yang bisa jadi hanya sedikit siletan kecil di hatinya atau kalo parah saya akan iris-iris hati orang yang sudah menyiksa saya dengan curhatan-curhatan yang bikin saya gila. C’MON WAKE UP! YOU HAVE SO MUCH BETTER LIFE THAN MANY OTHERS. BE GRATEFUL!!! heheheh … just want to make my point, that’s it!

Dah aaah … panjang amat, lagi flu nih! *telerrr*

What a week-end!

What a week-end! Bertemu orang-orang  yang somehow connected bikin saya cukup overwhelm. Bikin saya gila? Of course not! Cengar-cengir sih iya hehehehe ….

Jumat kemarin, after office hour, saya sih males balik langsung ke apartment.  Mumpung saya gak balik pulang ke mamih, dan apartment cukup gampang dijangkau (saya perempuan penebeng tingkat yahud kalo lagi males nyetir), jadinya saya decided to stay longer di tengah lampu kerlap kerlip ibu kota. What did I do? Not much, cuman stay di salah satu futkort yahud sambil cengingisan sama temen cewek saya yang baru pulang dari Denver.

Saya kenal Marsha Rashad sudah sekian lama. Sebelum berangkat ke Denver dia adalah salah seorang radio announcer yang cukup well-known dan kebetulan kantor saya dulu sering menggunakan radio dia buat promosi dan biasa bikin talk show. Ya si Marsha ini penyiarnya. Dulunya sih yaaa hubungan kerja gitu walaupun kami cukup bisa asyik ngobrol saat berjumpa. Somehow pada saat Marsha sudah berangkat ke Amerika, kok hubungan kami jadi lebih dekat. Again, none of this would happen kalo tidak ada dunia maya. Ceting-ceting panjang jadi sering terjadi, curhat-curhat mengenai banyak hal bagaikan good old friend jadi sering terjadi. Kita berdua jadi sering wondering, kenapa pas masih di Indonesia hal-hal kayak gini malah gak pernah kejadian.  Alhasil, setelah dia pulang … jadi kayak waktu balas dendam buat ngobrol langsung,dari urusan pacarnya yang tak seagama sampe urusan diskon big sale di mall seberang yang kayak nya rame tapi males juga kalau harus nyebrang.

Entah bagaimana, malam itu jadi rame sekali.  Marsha yang datang sama kakaknya, Nino … kakaknya yang used to date my friend, ada cowoknya si Hubert yang mukanya item manis kayak presenter infotainment, ceweknya Nino. Entah gimana, tiba-tiba ada telpon … lho kok mas Wisnu.
MW    : Duhhh yang lagi kumpul-kumpul.
Me    : Kok tau?
MW    : Aku di belakangmu, dik!

Ealah … Mas Wisnu dan rombongan sirkusnya. Saya kasih kode ke Marsha, “Mas Wisnu …” Marsha dengan muka cantik bola bekelnya cuman mengangguk dan tersenyum penuh arti.
Saya minta mereka buat gabung aja … emang kenapa? Toh memang saya gak ada fixed plan program for that Friday night, so everyone can just join the crowds.  Ternyata, saya ngerasa kagok juga ketemu mas Wisnu vice versa. Entah ya? Kurang ajarnya si Marsha bilang, “Yuk (kependekan dari mbakyu) … gue tinggal dulu ya?”
Me    : Maksud lo?
Marsha    : Si Genthong (Nino) ngajakin karaoke tuh.
Me    : Bukannya lo gak doyan karaoke?
Marsha    : Sssttt … ahhh! Dadah yukk … pulang bisa diatur ‘kan?
SYALAN benerrr! Dia tinggalin saya dengan Mas Wisnu dan kawanannya. Awh well … bukan Wigati namanya kalo kudu mati kutu. Suka begaya tenang, tapi ternyata rokok yang ada di tangan saya slip away that easy! Gosh! Malunyaaaaaa kayak orang baru belajaran ngrokok. In the past 12 years, belum pernah yg namanya ada kejadian rokok merucut dari tangan saya hahahahahah!
Geblek deh aaah …. Tapi at the end of the night, segalanya sudah mencair. Cerita-cerita lucu sudah mengalir dari mulut saya … Happy Ending. Dia anterin saya pulang, just like an old friend.  SAYA SUDAH TOTALLY ILFIL MAS!

Tapi yang sedikit mengganggu pikiran, tiba-tiba muncul nama Aldo Ferdiansyah di inbox SMS saya. Tidaaaaaaaakkkkk …. It’s been 1,5 years. With no contact at all. Eh once, pada saat temen kami Made meninggal. O iyaaa … another time, sepulang saya dari Bali dengan kulit saya yang newly tanned dengan baju body ‘n’ soul yang agak gimana gitu tiba-tiba dia sms, “Wiggy, boleh aku grab foto kamu di FS?” Gosh! Maunya apa orang ini?  Orang yang udah ngegantungin hidup saya for almost 7 years. Tapi saya bodo juga sih, mau aja digantung-gantungin.  He was like the real serious relationship I’ve ever had in my life.  I I guess I was involved with the wrong person and I fell for him, deeply! I would do anything for him. His wish was really my command. But not again! I need to be really tough on him.
SMS berputar-putar dan panjang … ayooo, Do! You want to play with me … Let’s play!
Aldo    : Wiggy, kamu di mana?
Me    : Di mall. Kamu?
Aldo    : Di kantor. Belum ada rencana
I didn’t ask whether you had a plan or not???
SMS-SMS panjang tetep berlanjut sampe keesokan hari nya.  Nadanya sangat memancing, dan I know it to damn well. Si lelaki bergengsi tinggi itu intinya pengen ketemu saya. Saya tauuuu … cuman in a way saya belum siap ketemu dia, terus saya pengen liat sejauh mana sih dia mempertahankan gengsi dia yang sundul langit itu. Furthermore, saya cuman ingin mengetest kekuatan dia buat in a way saying no to that guy dan apakah saya masih ada feeling sama dia.

Ternyata …

Di Sabtu yang melelahkan itu .. hmmm … I spent the whole day shopping barang-barang murmer dan saya cukup kalap. Adanya beberapa ajakan menghabiskan malming yang cerah ceria itu terpaksa saya lewatkan. Termasuk dari Mora Siregar, si Batak cantik yang peta pergaulannya tiada taranya di seluruh ibukota ini hhehehheheh. SMS-SMS itu masih terus tarik ulur antara saya dan Aldo. Sesampai di apartment akhirnya saya jadi kepikir, hiks … I was so lonely that night, prekkk lah masalah gengsi!
Me    : Jadinya malem ini ngapain? SENT
Aldo    : Ada resepsi nikahan. Gak ada rencana sih. SENT
Me    : *meletakkan gengsi dan prinsip saya ke lantai, BRUKKKK* Mo ngopi afterwards, Do?
Aldo    : GAK SAMPE SEJAM AKU SAMPE APARTMENT.
WOWWWWW!!! Maksud loooo …..

And he did! Pada saat saya masih telponan sama Mora yg merajuk-rajuk karena saya tak jadi pergi dengannya (rencana sudah ke 4x mungkin), dia SMS. Aku udah di lobby, Wig!
Me    : Dek, udah yaaa? Aldo udah di lobby nihhh!
Mora    : Mbaknyaaa … kamu tuh gak asik. Ngapain juga sih Bang Aldo nongol-nongol lagi?
Me    : Gatau lah dek!
Mora    : Ya … kita batal lagi dehhh.
Me    : Mora Siregar, please?
Mora    : okay okay mbak nya. You take care loh ya … don’t be naughty!
Me    : huwahahahahah …. gak janjiiiiii!

Di pelataran lobby, saya celingukan mencari sosok atletis si jago basket itu. Ternyata dia berdiri di wing sebelah kiri tower saya gelap-gelapan. Begitu saya lambaikan tangan saya … gludak … dia nabrak pilar segede gaban itu dengan sukses nya … so smart, ay! Saya sempet ketawa kecil tapi saya tahan. Kasian heheheh …entah apa yang ada di pikiran dia. Mana pas jalan pada saat menghampiri saya, jalannya tetepppp ditegap-tegapin kayak centeng pasar tanah abang (oops … project dia dulu di situ, jangan-jangan …. dia gak jadi konsultan tapi jadi preman hahahahahaahha). He hasn’t changed a bit.

Sebenernya saya sudah berfantasi a la film bollywood, berlari kecil menghampiri Aldo sambil berkata, “Aldo … I miss you like crazy!” memeluknya erat, sambil menciuminya sampe habiss di lobby bergaya klasik itu … Tapi … Saya gak mau kesenggol dia dulu aah, masi takut kesetrum.

Instead, saya bilang … Do, aku laper. Cari makanan yuk? Kok ke kawinan gak pake batik? Kawinan di blok-M sebelah mana? memberondongnya dengan berjuta pertanyaan yang kalaupun saya tau jawabnya, what would be the benefit for me? Nonthin! Hanya mengurangi kenervousan saya ketemu Aldo lagi. Atau saya emang super laper karena jam telah menunjukkan pukul 8 malam dan the last time I had my meal was at around 1. Akhirnya kami dapat makanan take out yg bergizi dan beberapa makanan sisa siang yang tinggal saya panasi di microwave. Gosh! I missed this kind of moment. Masa-masa kuliah dulu, dia anterin saya pulang, saya siapin makan siang. Nungguin dia main bola sama temen-temennya …. NGAYAL-NGAYAL ….

The dinner went quite smoothly. He felt pretty much at home. Kita ngobrol banyak tentang update dia yang baru aja pindah ke salah satu oil & gas company, mengenai kembalinya saya ke kantor lama, cerita tentang adik kembarnya yang hampir lulus kuliah, atau si Mitha adiknya yang saya kenal sangat dekat yg bingung bagi waktu antara kerja dan tesisnya (aren’t we all darling?). Dari ruang makan, cuci piring di dapur, sampe akhirnya nongkrong di balcony sambil dengerin ABG2 party di lantei bawah. Hebohhh banget kedengerannya (mungkin lebih heboh kalo ada yang mabok terus nglemparin temennya dari balcony! *ngayal lageeee*).

Akhirnya, kita kembali melakukan hal yg kita sukai … nonton kabel di sofa empuk seperti di rumah mamih. Gosh! What would happen now ya? Nonton tv sambil cetak cetek channel satu indovision saja … aaahhhh … gatau aaah! Saya biarkan dia cetak cetek remote while saya masi utak atik blackberry saya.
“Sejak kapan pake BB, Wig?”
“Barusan, Do. Jatah dari boss biar stay connected!”
“Segitunya?”
“You know Sam lah … gue kan udah berasa bini muda dia bukan?”
“Hahahah … Masi idup aja tuh si Sam? Pakabar dia …”

dan obrolan berlangsung and on and on and on … sampai saat saya mau ambil air minum buat saya … Ouucchhh .. my back was killing me. My lower back pain again! Duhhh … cenut-cenut datang di saat yang tidak tepat!
“Gajadi minum Wig?”
“Heheheh … gak kuat berdiri … cenut2 punggungku!” sambil meletakkan bantal di pangkuan saya, dan menidurinya.
“Kenapa Wig???” Dan terjatuhlah tangan itu di punggung saya. NOT NOW!!! Tapi elusan lembut itu sudah membuat saya tersetrum gila-gilaan. Semakin dalam … semakin dalam … no rejection from me! Tangan nya begitu lembut dan … Owh Shit, Do! Kenapa saya harus ngajak kamu ngopi sihhh? Saya gak bisa enggak ketemu kamu Do. Kamu tau saya kecanduan sama kamu, dan it took ages for me to forget you totally!

At the end … perasaan menggantung terjadi lagi. But this time I am a lot tougher! Saya gak mau pake hati, walopun sebenernya … kamu belum kembaliin kunci hati saya yang sudah kamu curi 10 thn yang lalu.

What a pinky day!

Tadi pagi entah mengapa, blouse stripes putih dan pink itu sudah terpegang di tangan, tapi tiba-tiba saya gantungkan lagi dan menggantinya dengan stripes creme yang  saya ambil. I look more formal with that, pikir saya pagi tadi. Setiba saya di kantor, saya masih belum ngeh … ada apa hari itu … begitu masuk ke area head office, saya baru kayak kena serangan bomb PINK.

Oh Gosh! Pink di mana-mana …. Sampe Boss saya, si Samuel Wirawan, cina ganteng di usia early 40an itu pun berhem pink, not entirely pink though, ada ambiance pink lah (ini pasti pilihan cik Ella, istrinya yang rada-rada itu!). Lisa, mantan asisten saya nampak seperti serius melihat-lihat gambar di laptop Sam, juga berbaju dengan nuansa pink. Sejurus itu juga Tefy, si resepsion head office yang sudah super PINK setengah berteriak menyambut kedatangan saya, “Mbak Wig gak kompakan aaah! Kok Putih item gitu … gak asik gak asik!” (INI CREME NENG!).

Saya berlalu dengan cuek, “Penting yaaa … sumpah gue gak ngeh hari ini tanggal berapa??? Hari apa ngapain?”
Si Sam berteriak dari ruangannya, “Gak asik ah lo … Gue aja cowok pake pink.”
Saya cuek berteriak dari ruangan saya, “Lo bapak-bapak kali Sam, bukan cowok. Yang cowok anak lo tuh si Leo. Masih 15 thn pantes dipanggil cowok.”
“Sialan lo Wig!” umpat si Sam.
“hahahaha … “Saya tertawa puas bisa men check-mate boss saya pagi itu!

Lagiaaaan, what is so special sih! Ya sudah, yang beranggapan hari ini special ya monggo. Buat saya … I have nothing against it, tapi inget aja buktinya enggak. That explains enough!

Saya nyalakan laptop saya, first thing first, saya nyalain windows media player saya. Entah kenapa saya sedang keranjingan sekali sama lagunya Yovie & Nuno yang DIA MILIKKU. Why? Simply danceable aja sih. Too much Kahitna Ambiance actually, but that’s okay … yang penting saya bisa jejogedan sendiri di ruangan saya. Saya putar puter sampe kalo si Dudy, penyanyinya, bisa tereak pasti dia bakal merintih sendu .. Mbak Wiggy … aku wes kesel banget mbakyuuuu .. cukuppppppp!!! (terjemahan: Mbak Wiggy, gw cape banget kaleee … cukupppp!!) wakakakakak ….

Sambil mulei membaca kontrak-kontrak dan amandemen-amandemen yang harus saya kerjain hari itu, dan entah sudah rit ke berapa lagu itu muter lagi … tiba-tiba ada yang menyapa di YM (tumben laku?)
OH GOD! Mas Wisnu?

Mas Wisnu (MW) : Dik, kalo nomermu error-error terus … kontak call center aja.
(saya memang SMS dia mengenai nomer saya yang sering error lately - saya kontak dia karena, hmmm, he’s a part of that telecommunication company. Gak penting ya, nanya ke dia? Kenapa gak langsung pencet 3 digit angka call center nya?)
Me : Ooo … sampun Mas, maturnuwun. (Udah Mas, tengkyu).
MW : heheheh .. Ya wes.
Ngomong gak … ngomong gak … akhirnya …
Me : Hepi Palentino, mas nya …
Ngomong gak … ngomong gak … akhirnya …
Me : Semoga banyak cinta buat Mas tahun ini ya?
Lama gak dijawab … Forget it!
And then …
MW : Hepi palentino juga dik Wig.
MW : doa yang sama goes to you too.
Me : Amin..
Lama diem-dieman. Saya back to work … Yovie & Nuno still continues …
MW : Bengi iki meh ngopo dik? (Malem ini mo ngapain, dik?)
Waaah …Dia mulei panggil saya dik lagi, setelah sempet kaku dan dia switch code dan memanggil saya Wig begitu saja, I didn’t mind, but I have to admitt that it was just really breaking my heart in pieces.

Saya agak terdiam … Lagunya finally berganti ke Sadao Watanabe …
Me : Emang malem ini ada apa sih, Mas? (dasar lelaki … tukang maintain!)
MW : Ya dinner kek ato gimana gitu … kan Valentine’s day? (Pelis, like I’m stil 18 or something?)
Me : Wes tuwek mas (Dah tua, Mas!). Aku miting all day and probably all night long.
MW : huwwwikk … sangar! Ya temen meeting nya diajak dinner gitu … (deep down … AKU MAUNYA DINNER SAMA KAMUHHH!)
Me : Males mas, paling abis miting … aku wes teler berats ehehheeh.

SILENT …. Lagunya Karimata yang nyanyi Phil Perry.
Me : Mas gak ada acara gimana-gimana malem ini?
MW : Candle light dinner dik …
Me : Emoticon ketawa gulung-gulung …
MW : Ora lah dik, wes tuwo (nah … dia ngikut-ngikut gini alesannya?) Ngapain Palentinan?!
MW : Halaaaah …
Me : Situ sering canddle light dinner, ya kaaan?
MW : Ono-ono waeee … (ada-ada ajaaaa)
Me : Ya tohhh … kan rumah situ sering mati lampu, makanya dinnernya pake candle light toh? *tink*
Later on I found out, he took my tagline about candle light dinner dan lampu mati as his comment di salah satu postingan tentang Valentine’s day - You are so inspired by me, hmmmm …
MW : Dik Wiggg …. ojo kumat tohhhh … (See? Nobody can make you smile, or laugh out loud but ME!)

Eden Atwood was on the air dengan musik bosas yang mendayu-dayu …
How do I feel actually? Hmmm … apa saya bakal falling in to him all over again? Saya cuman ketawa kecil … I don’t know what this feeling is. Cuman saya super dupper happy karena I got him back as a friend. Dia bisa ngobrol panjang lebar lagi dengan saya, becanda lepas hingga membuat saya tersenyum lebar dengan kepala miring ke kiri. Tanpa pretensi apapun itu. He knows how I really feel now. Sakit hati atau kekesalan akan terlebur dengan berjalannya waktu. Panjang pendeknya relatif sekali. Saya tidak menyangka saya sudah bisa tersenyum lebar dan embracing him as a friend. It feels really good. What did I do? Saya cuman berusaha iklasin semua. Ternyata ringaaaan. Saya gatau sih, sapa tau beberapa minggu ke depan saya kumat lagi … Cuman … it feels good aja. (Note: mungkin saya bisa aja begini pas ceting, cuman kalo ketemu langsung mending gak dulu deh, dari pada nangis darah lagi hahahahah … been there done that with my previous ex).

Jam 19:50 saya keluar kantor dengan perut keroncongan setelah meeting panjang hari ini. Saya pengen banget cepet sampe rumah and makan! Mamie bilang sudah beliin bakso kampung kesenengan saya. Tapi karena otw ke rumah saya adalah kafe-kafe tempat lampu mati sehingga harus terjadi candle light dinner sehingga memacetkan jalan all the way to my house. Melihat kafe-kafe itu saya jadi gatal,

Duhh … Nasibku yang rumahnya di antara kafe-kafe romantis yang mati lampu soale lagi pada candle light. Macetnyaaa … Rasanya aku abis ini pengsan di tengah jalan gara2 kelaperan. Gimana niiyyyy?
Cari W …. Wisnu Wardhana Cell … SENT

Setelah melewati kemacetan jalan yang mostly didominasi mobil-mobil yang di dalamnya berisikan sepasang lawan jenis, menyetir pelan-pelan. Hey .. C’mon! Ada tante-tante hampir pengsan kelaperannnn duduuuutttzzzzz! Akhirnya, saya sampai rumah juga dan pas pintu pagar ditutup, tiba-tiba suara gitar Balawan yang jadi ringtone SMS saya bunyi.
Wisnu Wardhana Cell … click
Sing sareh dik (yang sabar, dik!) … Di tengah kekesalan hatimu, pasti ada kasih sayang untukmu. Halah … Nggambus banget yang gwa! Hahahahahah …

Saya cuman bales:
He’eh … emang ada dari tukang parkir yang meneriakiku dengan penuh kasih sayang … Buruan mBaaakkk … macettttt!

What a day … so many problems back at the office, but I have so many love from my surrounding. Love is the survival kit of life. My life is filled with so much love! I have plenty of it to give!
Happy Valentine’s day, everyone!

Being a situational B*TCH

Jumat di saat Jakarta sedang banjir-banjirnya, saya terima SMS dari salah satu teman saya Mora Siregar,

Mbak nyaaa … aku baru balik dari Bdg, ketemuan ama beberapa temen sekumpulan Mas Wisnu. I got a hot news for you! YM me on Monday ya? 

Duh … mending dia gak usah SMS yang bikin penasaran gitu, pikir saya!  Sejak ultah saya the other day, saya berusaha untuk tidak get in touch with anything which has something to do with Mas Wisnu.  Kalau saya bilang too painful, hmmm … gak juga toh saya udah ikhlasin.  Tapi ya … everybody needs recovery moment lah … begitupun saya. Walaupun kalo dipikir-pikir saya udah gak kerasa apa-apa, malah sebaliknya I feel pretty happy with my self.

Anyway, kemarin pagi waktu berangkat ke kantor setengah hari di hari sabtu yang as usual bikin saya males berangkat, saya putuskan buat telpon dia saja. Penasaran!

Mora Siregar (MS) and Yes.

MS      : Pagi, Mbak nyaaaaa ….

Me       : Pagi dek ….

MS      : Ihhhh nelponnya pagi-pagi amat, aku kan ngantuk …

Me       : Maaf ya, saya gak peduli situ lagi ngantuk

MS      : heheheh … kayaknya ada yang gak sabar nungguin hari Senin nih!

Me       : Siyal luhhh …. Ngerti Mbak nya lagi recovery time, pake acara digoda-goda gosip tak penting, Huh!

MS      : Nyetir Mbak nya?

Me       : Yupe … Why?

MS      : Ati-ati nabrak … (dengan suara centilnya, yang terdengar agak nyebelin pagi itu!)

Me       : Halah ngeles, buruan … biar siksaan but elo cepet berlalu and you can go back to sleep!

MS      : heheheh … gini, Mbak nya (panggilan yang amusing sekali buat saya). Blablablaabla

 

Si Mora Jumat malam barusan kembali dari suatu tugas di Bandung, instead of pulang, dia sempetin bergaul di Jumat malam nan banjir itu. Agak ridiculous sih emang, cuman saya gak pernah ngerti jalan pikiran si Batak cantik satu itu when it comes to bgaul time!  Anytime, anywhere mah hayukkk sajah, secara dia sering menyebut dirinya Ms. Congeniality (sambil melambaikan tangannya a la miss Universe … ohhh nooo … kill me! Kill meeee ….).

Ternyata di suatu mall tempat bergaul yang cukup ternama di ibukota tertjintah ini, dek Mora (biar kesannya si prempuan 29thn ini jadi 10 tahun lebih muda hahahha) ini menemukan beberapa teman dari komunitas begaulnya, ya salah satu nya teman dari komunitas dunia maya yang sudah seperti kakak untuknya (tsahh … mantaB!)
MS      : Karena aku tau si Mas Hari itu kenal sama Mas Wisnu, makanya aku coba korek-korek peta percintaan di komunitas mereka, Mbak nya …

Aaaah … it turned out that temen Mora itu adalah temen satu komunitas Si Mas, tapi ngapain juga si Mora iseng banget gitu?

MS      : Aku kan sayang kamu mbak nya … aku gak mo liat kamu patah hati penasaran dong … sapa tau ehm aku bisa tau pacar si Mas yang baru, ato what’s going on gitu loh!

Me       : Ooo gitu, terus? 

Dengan trik jitu nya, Mora akhirnya bisa menggiring pembicaraan pada si Mas. Karena si teman (T) nya bertanya, ”Kamu kalo gak salah kenal Wigati yang blablablabal itu kan?”

MS      : Iya … udah kayak mbak ku sih dia, kenapa? *belagak o’on nya kumat*

T          : Dia kan deket banget ama temen aku si Wisnu. Emang Wigati gak pernah cerita?

MS      : Oiya, pernah sih mentioned kalo dia deket ama yg namanya Wisnu but never really in details.

T          : Wisnu tuh dikit-dikit nyebut nama si Wiggy. Kalo lagi conference di YM  ngobrolin ini itu eh tiba-tiba dia sebut, si Wiggy tuh gini lho …. Or oiya si Wiggy kan pernah gitu dong. Or even kalo kita ketemuan, ngobrolin apa pun dia sering banget mentioning si Wiggy ini.  Sampe orang-orang juga benernya penasaran sapa sih Wiggy ini?

Saya sontak ketawa ngakak-ngakak sampe hampir menyenggol tong di tengah jalan. 

Me       : No wonder ya dek, ada beberapa prempuan di komunitas itu keknya rada gahar dan menyelidik pada ku? Kadang ngeYM or something dengan nada penasaran. Ato just nongol di mp tanpa saying hai. Dan banyak orang yg nge-add in YM aku, but never really had a chat with me. Cuman pengen tau status of the day kali ya? Halaaaah …. Ternyataaaaaa …

MS      : Berasa jadi piala ya Mbaknyaaa?

Me       : Hmm … I’m just another prempuan bodoh yang ikutan termehek-mehek karena ke charming an si Mas.

MS      : Tapi dia kan milih kamu mbaknya …

Me       : Halah …milih gue cuman buat dijadiin kamuflase doang. Buat apa?

MS      : heheheh … emang sih  kata temennya itu, si Mas Wisnu tuh emang charming and nice pada semua prempuan, perhatian dll … no wonder kan? Tapi ya gitu, gak ada yang disenggol. Cepek dehhhh ….

Me       : hehehehehehe *devil’s laugh* tapi gue pialanya gitu loh neng. Teuteup! It feels good, sambil ngebayangin gondoknya tuh prempuan-prempuan. While me? Can’t get the guy, but I’m the trophy … that’s certainly something, geblekkkk

MS      : Dasar Bitch kamu!

Me       : Kamu gak tau aja gimana lebih bitchy nya prempuan-prempuan itu, gue loh nice banget ama mereka, malah kesannya gue yang gimana gitu. But at the end, see? Gueeee gitu piala nyaaaaa heheheheheh *devil’s laugh again*

Kami berdua tertawa terbahak-bahak bergembira tergila-gila. Apaan coba itu yaaa? 

Sometimes, kita ngerasain gimana sebelnya mencintai lelaki yang salah, apalagi the one that we thought that we might spend the rest of our life with. But …. If shit happens, mo diapain lagi? Kadang being a bitch for the right situation makes us feel like a queen *dengan dagu terdongak dan melambai-lambaikan tangan a la miss universe*

Unhappy .. it’s all in the state of mind!

Hari Senin, adalah hari nonton saya dan neng Thea. Setelah kuliah yang melelahkan di wiken kemaren, rupanya choco mousse dan black forrest roll a la Hyatt masih belum cukup memuaskan kelelahan batin yang kami alami … halahhhhh … heheheh. Well, saya memang punya tendency untuk menjadi hyperbolic pada saat saya menjomblo seperti sekarang ini.

Film yang kami pilih hari ini adalah Radit dan Jani. Why? Simply karena seat untuk Otomatis Romantis tinggal di 2nd row from the very front row. I don’t mind, really! Tapi karena SMS Neng Thea berkata, Mbak, kita nonton Radit & Jani, OtRom penuh, dpt no2 dr dpn. Takuseyeee. Ya sudah, the decision has been made … then just right ahead.

Comment ringan mengenai film ini, gak terlalu pentinglah pendapat saya … heheheh … saya gak terlalu enjoy! Agak depressing untuk saya yang nonton butuh dihibur instead of ikut merasakan penderitaan orang lain … saya sudah cukup menderita kok! (see? I’m being hyperbolic again!)

Anyway, at the end of the day, ritual muter cari tempat makan tetep terjadi. This time tidak di mall, tapi muter-muter kota … sambil berputar-putar entah mengapa topik kami malam ini adalah about UNHAPPY people! Why? Apakah karena saya being unhappy? Nooo … nooo … I’m good … I’m fine! Masa duka sudah berlalu, No WOrry! It’s about my friend, Dina and Neng Thea’s friend, Cici. What’s wrong with those 2 ladies?

“Mbak, Mbak, Mbak” panggilan rumpisari a la Neng Thea mengawali diskusi malam itu.

”Hmmm … kenapa?”

Meluncurlah cerita mengenai Cici, temen sekantornya, yang merasa entah frustasi, depresi atau apa lah namanya. But the bottom line is, nothing seems to be right..

“Hiiii … kok bisa gituuuuu???” kata saya sambil terus nyetir.

”Iya tuh gatauk, masak kalo aku mo pulang ke Bandung dibilang, hmmm pulang terus, pasti mo ketemu pacar dengan nada gak enak. Emang wotsrong sih?? Kalo dengan kalimat yang sama dengan tone of voice yang lebih ramah … aku juga ngerti kok kalo dia try to be nice.”

”Kamunya sensi kali, Neng?”

”Duh Mbak, bukan aku ajah … si temen ku kapan itu kebetulan pake baju baru … ehh dia bilang, baju baru lageeee … sayang amat sih duitnya dipake beli baju baru terus, mending ditabung. Sambil bersungut-sungut gak jelas.”

Ternyata walaupun saya dan Neng Thea berbeda jarak umur cukup jauh (7 tahunan), ternyata permasalahn kami tidak sejauh itu perbedaannya. Saya kemudian jadi teringat dengan teman saya (quite a close friend) yang sedang mengikuti suami nya bertugas di luar Jawa.

Dina adalah mantan staff saya di kantor. Sudah sejak 5 tahun yang lalu setelah mereka menikah, Dina diboyong Yoga ke negara tetangga. Dina yang career woman minded dan pernah bekerja di bagian legal suatu korporasi besar di Indonesia, tidak bisa tinggal diam. Dia kemudian bekerja sebagai Project Secretary di tempat Yoga. Memang sih bukan dream job untuk Dina, tapi no other option. Soon after, lahirlah Arsha yang melengkapi pernikahan mereka. Gak ada yang kurang lah dari hidup mereka lah. Sebelum umur 30 mereka udah dapet almost everything dalam kehidupan mereka.

Tapi ternyata saya salah, entah mengapa itu feeling yang timbul dari saya. Dan lately, feeling itu semakin kuat. Dina sekarang menjadi seseorang yang menjadi super duper rewel, dan nothing seems to be right.

Beberapa tahun yang lalu, memang sempat dia frustrated being away from ibukota. Being away from the things she has always dreamed of. Even in her worst time, dia SMS saya, “Mas Yoga yang bikin aku kayak gini, Mbak! Aku jadi gak bisa ngapa-ngapain. Di rumah, repot, kerjaan gak abis-abis. Arsha kadang gak ngerti Bunda nya capek, rewel terus. Mana Mas Yoga pulang nya malem terus. Aku capek, Mbaaaaak!”

Saya pikir dia sedang mengalami baby blue syndrom, jadi ya saya cuman bisa bilang, “Sabar, Din. Semakin kamu BT, itu bakal nyetrum ke Arsha, and it will make things a lot worst!”

Tapi dengan bertambah besarnya si Arsha, ternyata kebiasaan nagging nya si Dina ini kok tambah lama tambah hari kok saya rasa semakin parah. Selain rewel, gak pernah happy dengan dirinya sendiri, selalu mencari obyek untuk disalahkan. Tiap hari, over Yahoo Messanger, selalu aja adaaaa yang diprotes,

”Sebel aku boss ku ini, pancen edan kok. Ngasi kerjaan gak abis-abis.”

”Driver-driver di sini emang gak bisa dikasi ati, udah diaturin schedule blablabla dasar males!”

”Capek aku, 2 hari tidur jam 2 terus banyak pesenan cake … gak mood aku!”

Kalau saya bilang ya udah dong ditolak kalo capek, dia bilang sayang.

Kalau saya bilang udah brenti aja, toh bisnis cake nya udah mulei rame, dia bilang omzet belum bisa menyamai gaji dia sebulan.

Kalau saya bilang ya djalani pelan-pelan, toh emang udah terlanjur milih ngambil kerjaan itu kan kudu konsekuen ngerjainnya, dia bilang ….aku capek, mbakkkkk.

*Speechless … gak ada yang bener*

Entah mengapa saya kehilangan teman saya yg metal (dia dulunya cewek metal banget) yang ceria. Yang bisa bikin suasana meriah gara-gara kegilaannya dulu. Saya ngerasa, all she cares about is her own things to be nagged. Udah ngomongin dirinya sendiri dan pake acara direwel-rewelin.

Saya sangat ngerti, it’s not easy being her … tapi saya pikir, kalo ngelayani kerewelan dia lama-lama saya bad mood juga. Mana kadang dia curhat pada saat saya juga kebetulan lagi not in a good condition. Saya kadang pengen tereak, or even pengen mecahin piring di atas kepala nya. “Sadar, Ndukkkkkk … Life’s not easy!”

Pernah suatu kali pada saat status di YM saya menunjukkan kalau saya lagi gak enak hati.
Dina : Ngapain, Mbak?
Saya : gpp (saya males cerita masalah saya)
Dina : gak enak ati kah?
Saya : ya … just one of those days lah … gpp kok.
Dina : masak sih? Ngomong dong …
Saya : it’s okay, nanti kan beres. Aku gak bisa ngomongin, cuman gak enak ati. Lagian emang kalo aku mo curhat ato cerita, sapa ya peduli sih aku lagi gak enak ati ato gak enak body? Emang kalo aku cerita ada yang mau ngerti? (kata saya dengan penuh sindiran dan agak galak memang)
Dina : Lho kok gitu seh ngomongnya … (dan berlanjut ke acara curhat bt gara-gara mau beli ini itu gak boleh beli sama sang juragan a.k.a mas Yoga suaminya).
*aaaaaarrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhhhhhhhh*

Yaaa … emang gini lah nasib orang kayak saya yang beraura curhat. Terkadang saya mo share my happiness dengan Dina. Pernah pas saya baru pulang liburan dan dateng ke nikahan teman saya dan Si Mas (hiks … kok si Mas lagi). Saya bilang, ”Eh mo liat foto aku sama si Mas gak?”
She had no comment cuman accepting share foto dari saya.

Pas saya tanya, udah kliatan belum?
Dina : Udah
Saya : Jelas? (dasar agak narsis, berharap cemas menanti comment)
Dina : Owh, ini yang namanya Mas Wisnu yang kerja di blablabla. Kapan kawin?
Saya : Ya belum lah Din. Belum juga apa-apa.
Dina
: Kirain udah mau kawin. (and then telling all her BT story all over again!)

THAT WAS THAT!
God! And it’s even difficult for her to be happy for her close friend kayak saya. She totally becomes a different person.

She’s just being hard to be pleased! Akhirnya, saya playing tough juga. Saya gak mau terbawa arus BT nya dia. Instead! Malah saya sering bilang, ya … kekeselanmu yang bikin ya kamu sendiri! (ciehhh …. Lagi begaya wise nih saya!).

Few weeks ago, saya suruh dia beli THE SECRET. Sapa tau dia bisa termotivasi buat mengeksplore positive attitude buat menarik banyak hal baik in the universe.

“Gak dulu kali mbak. Dimarahin juragan bolak-balik beli buku belum kebaca.”
”Owhh … OK.”

Kemudian ada SMS beberapa hari kemudian.
Eh, Mbak … bojo ku bilang katanya tumben beli buku rada ’genah’ (genah means bener – bhs jawa).

Sukur deh …. saya tinggal menanti keajaiban. Apakah setelah baca buku itu … dia bakal jadi agak-agak lurus huahhahahaahah.

Tit tit … ada SMS masuk.

Dina :
Mbak, agak susah dimengerti. Agak terlalu filosofis. Mas Yoga gak ngeh nih di buku terjemahan, mo cari aslinya ajah. Dasar gaya! Sok banget!
(kenapa kudu tetep ada komplein nya sih/???)


Saya :
Ya gpp toh, Din. Biar Mas Yoga bacanya enak.
(saya ngerti sih maksud dia, cuman saya sengaja aja …
I hate her being negative gitu)

Saya jadi bingung apa sebabnya dia jadi begitu. Tapi saya gak mau pusing lah. Saya gak mau menutup silaturahmi saya sama dia, tapiiiii …. saya gak mau ketularan BT dan unhappy kayak Dina. It’s all in our state of mind. Kalo kalo muncul sesuatu yang unpleasant, gampangnya, saya gak mau hal itu bikin BT saya karena negative thing will lead to another negative thing. Kalo kita yakin bahwa everything will be okay …. Another good thing will be on the way. Saya yakin itu!

Love Quote

Let no one who loves be called altogether unhappy. Even love unreturned has its rainbow.
— James M. Barrie

short, simple, meaningful!